Podcast Kito: Zakat sebagai Investasi Pendidikan dan Peradaban

Aceh Selatan, Independen News – Komitmen menjadikan zakat sebagai instrumen pembangunan sumber daya manusia terus diperkuat oleh Baitul Mal Kabupaten Aceh Selatan.

Melalui program Podcast Kito – Sahabat Zakat, lembaga ini kembali menghadirkan ruang edukasi publik yang inspiratif dengan mengangkat tema “Zakat untuk Pendidikan: Membangun Generasi Aceh Selatan”, yang tayang pada 24 Maret 2026 pukul 20.00 WIB melalui kanal YouTube resmi Podcast Kito Sahabat Zakat dan media sosial lainnya.

Episode ini menghadirkan Direktur Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Tapaktuan, Dr. Sufyan Ilyas, S.Th, MH yang berdialog bersama host Sepri Kurniadi, S.Pd, M.Pd yang berprofesi sebagai Dosen Politeknik Aceh Selatan membahas peran strategis zakat dalam mendukung sektor pendidikan, khususnya bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu.

Dalam pengantarnya, Sepri selaku host menegaskan bahwa zakat tidak semata-mata dipahami sebagai kewajiban ibadah, tetapi juga sebagai kekuatan sosial yang memiliki dampak nyata dalam membuka akses pendidikan dan menciptakan perubahan masa depan.

“Zakat adalah jembatan kepedulian yang mampu menghadirkan kesempatan. Dari zakat, lahir harapan, dan dari harapan, terbangun masa depan,” ujar Sepri.

Dalam diskusi yang berlangsung hangat dan penuh makna, Dr. Sufyan Ilyas menekankan bahwa zakat memiliki peran vital dalam menjaga keberlangsungan pendidikan, terutama bagi mahasiswa yang menghadapi keterbatasan ekonomi.

Menurutnya, tidak sedikit mahasiswa yang memiliki potensi besar, namun terhambat oleh persoalan biaya.

Kehadiran program zakat yang dikelola oleh Baitul Mal menjadi solusi konkret untuk menjawab persoalan tersebut.

“Banyak mahasiswa yang sebenarnya memiliki kemampuan, tetapi terkendala biaya. Dengan adanya bantuan zakat, mereka dapat melanjutkan pendidikan dengan lebih tenang dan fokus,” jelasnya.

Ia menambahkan, zakat sejatinya menjadi penghubung antara kepedulian para muzakki dengan masa depan generasi muda.

Lebih lanjut, Dr. Sufyan mengungkapkan bahwa manfaat zakat telah dirasakan langsung oleh mahasiswa penerima bantuan. Selain meringankan beban biaya pendidikan, zakat juga mampu membangkitkan semangat dan motivasi belajar.

Mahasiswa yang sebelumnya berada dalam tekanan ekonomi kini mampu menunjukkan peningkatan prestasi akademik. Hal ini menjadi bukti bahwa ketika kesempatan diberikan, potensi generasi muda dapat berkembang secara optimal.

“Zakat bukan sekadar bantuan sesaat, tetapi investasi sosial jangka panjang. Dari mahasiswa hari ini akan lahir pemimpin, pendidik, ulama, dan profesional masa depan,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, juga ditegaskan pentingnya peran lembaga pendidikan dalam membangun kesadaran berzakat. Kampus tidak hanya menjadi ruang transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga pusat pembentukan nilai sosial dan spiritual.

Mahasiswa didorong untuk memahami zakat sebagai bagian dari sistem keadilan sosial dalam Islam, sekaligus menjadi agen edukasi di tengah masyarakat.

Pesan penting juga disampaikan kepada para penerima manfaat zakat. Bantuan yang diterima bukan sekadar dukungan finansial, melainkan amanah yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab.

Mahasiswa diharapkan menjadikan zakat sebagai motivasi untuk berprestasi, serta mempersiapkan diri menjadi generasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Harapan besar pun disematkan, agar di masa mendatang para penerima zakat dapat bertransformasi menjadi muzakki, pihak yang turut membantu sesama.

Dr. Sufyan juga menegaskan bahwa pengelolaan zakat yang profesional, transparan, dan akuntabel akan memperkuat kepercayaan publik.

Dengan demikian, potensi zakat dapat dioptimalkan sebagai solusi nyata dalam mengurangi kemiskinan, memperkuat pendidikan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Di akhir perbincangan, disampaikan harapan agar Baitul Mal Aceh Selatan terus memperkuat program-program berbasis pendidikan serta membangun kolaborasi yang lebih luas dengan lembaga pendidikan.

Sinergi tersebut dinilai penting untuk memastikan manfaat zakat dapat dirasakan secara berkelanjutan dan tepat sasaran.

Menutup podcast, host Sepri Kurniadi menyampaikan pesan reflektif bahwa zakat bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang membangun harapan dan membuka jalan masa depan.

“Setiap rupiah zakat adalah amanah. Ia harus dikelola dengan integritas, transparansi, dan tanggung jawab, agar benar-benar menjadi sumber keberkahan bagi umat,” tutupnya.

Layanan Podcast Kito Sahabat Zakat merupakan Kemitraan Strategis Baitul Mal Kabupaten Aceh Selatan dengan MPD Pemuda ICMI Aceh Selatan dan PD IPARI Kabupaten Aceh Selatan, sebuah kolaborasi yang menghasilkan bagi strategi untuk memaksimalkan peran dan fungsi masing-masing lembaga untuk terus berkontribusi terhadap masyarakat Aceh Selatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *