ACEH BARAT, Independen News – Kabar baik bagi masyarakat pedalaman. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh Barat berhasil menuntaskan penanganan darurat longsor yang sempat memutus akses jalan penghubung Desa Jawi–Sipot, tepatnya di Desa Lueng Baro, Kecamatan Sungai Mas.
Longsor yang terjadi pasca banjir besar pada November 2025 lalu, diperparah oleh intensitas hujan tinggi yang terus mengguyur kawasan tersebut. Akibatnya, badan jalan sepanjang puluhan meter sempat tidak bisa dilalui dan menghambat aktivitas masyarakat.
Pelaksana Tugas (Plt) Kadis PUPR Aceh Barat, Fadly Octora, melalui Kabid Jalan dan Jembatan, Beni Hardi, menyampaikan bahwa penanganan darurat kini telah rampung 100 persen.
“Alhamdulillah, berkat kerja keras tim di lapangan, penanganan darurat longsor di Desa Lueng Baro sudah tuntas. Saat ini kendaraan, baik roda dua maupun roda empat hingga truk besar sudah bisa melintas dengan aman dan lancar,” ujar Beni, Selasa (17/3/2026).
Ia menjelaskan, titik longsor yang ditangani memiliki panjang sekitar 35 meter. Penanganan dilakukan dengan penimbunan material, pengerasan badan jalan, serta pembangunan tanggul darurat menggunakan batang kelapa untuk menahan pergerakan tanah.
Meski jalur telah kembali dibuka, masyarakat tetap diimbau untuk berhati-hati saat melintasi kawasan tersebut, mengingat kondisi geografis yang berada di perbukitan dengan jurang di sisi kiri dan kanan jalan, serta cuaca yang masih tidak menentu.
“Untuk sementara kita tangani secara darurat dulu agar bisa dilintasi kendaraan, apalagi jalur ini merupakan akses vital penghubung masyarakat Sungai Mas dan Woyla. Kita juga antisipasi lonjakan arus kendaraan saat libur Lebaran,” tambahnya.
Lebih lanjut, Beni mengungkapkan bahwa penanganan permanen akan segera direalisasikan pada tahun 2026 melalui anggaran Dana Transfer Daerah (TKD).
“Target kita, pada Mei 2026 ruas jalan Jawi–Sipot di Desa Lueng Baro akan ditangani secara permanen, sehingga ke depan lebih aman dan tahan terhadap bencana,” pungkasnya.
Dengan pulihnya akses ini, diharapkan mobilitas masyarakat dan distribusi logistik kembali normal, serta mampu mendorong aktivitas ekonomi warga di wilayah pedalaman Aceh Barat.












