Ulama Aceh Selatan Bantah Kaitan Bencana dengan Isu Politik, Ajak Semua Pihak Jaga Lisan dan Persatuan

Aceh Selatan, Independen News – Pernyataan seorang penceramah asal Jawa Tengah yang mengaitkan bencana alam di Aceh dengan isu permintaan kemerdekaan mendapat tanggapan dari kalangan ulama Aceh Selatan.

Salah satunya datang dari Abuna Tgk. H. Mohd Ja’far Amja, S.Hi, Pimpinan Dayah Sirajul Ibad, Rottengoh, Kecamatan Meukek, Kabupaten Aceh Selatan.

Abuna menegaskan bahwa mengaitkan musibah banjir bandang dan longsor di Aceh dengan isu politik, terlebih dengan narasi “laknat”, merupakan pernyataan yang keliru, tidak berdasar, dan sangat tidak bijak jika disampaikan di ruang publik.

“Musibah adalah ujian dari Allah SWT, bukan alat untuk menghakimi suatu daerah atau masyarakat dengan tuduhan-tuduhan politik. Islam mengajarkan kita untuk berhati-hati dalam berbicara, terlebih saat saudara-saudara kita sedang tertimpa bencana,” ujar Abuna, Jum’at (16/1/2026).

Menurutnya, bencana alam tidak boleh ditafsirkan secara serampangan apalagi dikaitkan dengan dosa kolektif atau isu separatisme.

Dalam ajaran Islam, musibah bisa menjadi ujian, peringatan, atau sarana meningkatkan derajat keimanan, bukan alasan untuk menyudutkan suatu kelompok atau daerah.

Abuna juga menekankan bahwa Aceh saat ini berada dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan masyarakat Aceh tengah fokus pada upaya pemulihan pascabencana, bukan pada isu-isu politik yang dapat memecah belah persatuan umat.

“Kita semua adalah saudara seiman dan sebangsa. Saat terjadi bencana, yang dibutuhkan adalah empati, doa, dan bantuan nyata, bukan stigma atau narasi yang melukai hati masyarakat yang sedang berduka,” tegasnya.

Lebih lanjut, Abuna yang juga Pimpinan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kabupaten Aceh Selatan mengajak para dai, ulama, dan tokoh agama di seluruh Indonesia untuk menjadikan mimbar dakwah sebagai sarana menyejukkan umat, mempererat ukhuwah Islamiyah, serta memperkuat persaudaraan kebangsaan.

Ia juga menyampaikan bahwa faktor utama terjadinya bencana di Aceh harus dilihat secara objektif, termasuk persoalan kerusakan lingkungan, perubahan iklim, dan krisis ekologi, yang membutuhkan perhatian dan tanggung jawab bersama.

“Dalam kondisi seperti ini, kita diajarkan untuk ber-tabayun, menjaga adab, dan menghindari ucapan yang berpotensi menimbulkan fitnah. Jika terjadi kekeliruan, maka sikap terbaik adalah klarifikasi dan permohonan maaf secara terbuka,” tambahnya.

Di akhir pernyataannya, Abuna Tgk. H. Mohd Ja’far Amja mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk mendoakan Aceh agar diberikan kekuatan, kesabaran, dan perlindungan oleh Allah SWT, serta menjadikan musibah ini sebagai momentum untuk memperbaiki hubungan manusia dengan alam dan dengan sesama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *