Aceh Selatan, Independen News – Bulan Suci Ramadhan tidak hanya menjadi momentum peningkatan ibadah secara personal, tetapi juga waktu yang tepat untuk membangun fondasi generasi Islam melalui penguatan Program Masjid Ramah Anak.
Tokoh agama Aceh Selatan, Tgk. Syahwizal Elsy, yang akrab disapa Ayah Seubadeh, menegaskan bahwa keberadaan anak-anak di masjid bukanlah gangguan, melainkan bagian dari keberkahan dan tanda hidupnya syiar Islam.
Pimpinan Dayah Mudi Inshafiah yang berlokasi di Gampong Seubadeh, Kecamatan Bakongan Timur, Kabupaten Aceh Selatan itu menyampaikan bahwa konsep Masjid Ramah Anak sejatinya bukan hal baru dalam Islam.
“Sejak zaman Rasulullah ﷺ, anak-anak sudah hadir di masjid. Mereka tidak diusir, tidak dimarahi, tetapi dibimbing dengan penuh kasih sayang,” ujar Ayah Seubadeh.
Ia menjelaskan, dalam banyak riwayat disebutkan bagaimana Rasulullah ﷺ memperlakukan anak-anak dengan kelembutan. Bahkan ketika cucunya menaiki punggung beliau saat sujud, Rasulullah ﷺ memperpanjang sujudnya. Ketika mendengar tangisan anak, beliau mempercepat shalat demi menjaga perasaan ibunya.
Menurut Ayah Seubadeh, hal tersebut menjadi dalil kuat bahwa masjid adalah ruang pendidikan generasi.
Ayah Seubadeh menuturkan bahwa masjid pada masa Nabi Muhammad ﷺ bukan sekadar tempat shalat, tetapi pusat pendidikan, musyawarah, pembinaan akhlak, dan pembentukan karakter umat.
“Kalau hari ini kita menginginkan generasi yang cinta masjid, maka sejak kecil mereka harus merasa nyaman berada di dalamnya,” jelasnya.
Program Masjid Ramah Anak, lanjutnya, adalah upaya menghadirkan suasana aman, mendidik, dan penuh kasih sayang bagi anak-anak di masjid, tanpa menghilangkan adab dan ketertiban.
Ia menekankan bahwa ramah anak bukan berarti membiarkan tanpa aturan, tetapi membimbing dengan hikmah.
Menurut Ayah Seubadeh, ada manfaat besar yang akan dirasakan apabila masjid menjadi ramah terhadap anak-anak, dimana bagi Masjid: terjadinya regenerasi jamaah, masjid menjadi lebih hidup dan dinamis, terciptanya citra masjid sebagai pusat peradaban Islam, lalu penguatan fungsi pendidikan dan sosial.
Selanjutnya bagi Anak: tumbuhnya kecintaan kepada masjid sejak dini, kemudian terbentuknya karakter Islami, lingkungan pergaulan yang positif, dan tentu saja kedekatan spiritual dengan Allah SWT.
“Anak yang tumbuh dekat dengan masjid, insya Allah akan tumbuh jauh dari kemaksiatan,” ujarnya.
Ayah Seubadeh menilai Ramadhan sebagai momentum strategis karena banyak anak ikut orang tua ke masjid untuk shalat tarawih, tadarus, dan berbagai kegiatan keagamaan.
“Jangan jadikan Ramadhan hanya ramai sesaat. Jadikan ini sebagai awal membangun budaya masjid yang memeluk anak-anak,” katanya.
Ia mengajak seluruh pengurus masjid, orang tua, dan masyarakat untuk bersama-sama membangun pendekatan yang lebih bijak terhadap anak-anak di rumah Allah.
“Kalau kita ingin melihat masa depan masjid, lihatlah bagaimana hari ini kita memperlakukan anak-anak di dalamnya. Jangan usir suara anak dari masjid, karena dari merekalah kelak suara adzan akan dikumandangkan,” tutup Ayah Seubadeh.
Dengan semangat Ramadhan, Program Masjid Ramah Anak diharapkan bukan hanya menjadi wacana, tetapi gerakan bersama demi melahirkan generasi yang mencintai masjid, mencintai Al-Qur’an, dan menjaga peradaban Islam di masa depan.
















