Meulaboh, Independen News – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bersubsidi kembali menjadi keluhan para petani di Kecamatan Bubon, Kabupaten Aceh Barat. Sejak beberapa hari terakhir, pasokan solar untuk kebutuhan pertanian dikabarkan sulit didapat, membuat sejumlah alat pembajak sawah tidak dapat beroperasi.
Akibatnya, aktivitas pengolahan lahan pertanian di beberapa gampong di wilayah tersebut terhambat. Para petani mengaku sudah berulang kali antre di SPBU, namun stok solar bersubsidi selalu kosong atau hanya tersedia dalam jumlah terbatas. Kondisi ini dikhawatirkan akan berdampak pada mundurnya masa tanam padi di akhir tahun.

Menanggapi persoalan tersebut, Anggota Komisi II DPRK Aceh Barat, M. Priya Nyona Feby, meminta pemerintah daerah bersama instansi terkait segera turun tangan untuk meninjau langsung situasi di lapangan dan memastikan distribusi solar subsidi tepat sasaran.
“Kita sangat prihatin dengan kondisi ini. Petani adalah tulang punggung daerah, jadi jika alat pertanian mereka tidak bisa bergerak karena tidak ada solar, maka produktivitas dan ekonomi masyarakat ikut terganggu,” ujar Feby, Sabtu (22/11/2025).
Ia menekankan pentingnya pengawasan terhadap penyaluran BBM subsidi agar tidak disalahgunakan oleh pihak yang tidak berhak.

Menurutnya, solar bersubsidi seharusnya diprioritaskan untuk sektor vital seperti pertanian dan nelayan, bukan untuk kepentingan industri atau pelaku usaha besar.
“Kami di Komisi II akan memanggil pihak terkait, termasuk Dinas Pertanian dan Pertamina, untuk mencari solusi agar petani tidak terus-menerus dirugikan akibat kelangkaan ini,” tambahnya.
Feby juga mengimbau agar SPBU di wilayah Aceh Barat transparan dalam pendistribusian solar bersubsidi dan mematuhi ketentuan kuota yang telah ditetapkan.
Ia berharap permasalahan ini bisa segera diatasi, sehingga petani di kecamatan Bubon dan sekitarnya dapat kembali menggarap sawah tanpa hambatan.














