MEULABOH, Independen News – Desa Suak Indra Puri, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat, bersiap memulai transformasi besar dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui skema kemitraan Tripartit. Program ini menjadi solusi baru bagi persoalan sampah di lorong-lorong sempit yang selama ini sulit dijangkau armada pengangkut konvensional.
Kolaborasi strategis tersebut melibatkan Pemerintah Desa Suak Indra Puri, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Aceh Barat, serta Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) melalui Dolah Recycle sebagai mitra pengelola.
Keseriusan program ini ditandai dengan pertemuan koordinasi yang digelar antara perangkat desa, Tim DLH Aceh Barat, dan pihak Dolah Recycle guna mematangkan konsep operasional dan mekanisme layanan kepada masyarakat.
Sebagai tahap awal, program ini akan dijalankan dalam bentuk pilot project yang menyasar sekitar 250 Kepala Keluarga (KK) atau bangunan di wilayah Desa Suak Indra Puri. Pembahasan teknis lanjutan dijadwalkan berlangsung pekan depan agar seluruh tahapan transisi berjalan optimal sebelum peluncuran resmi.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Aceh Barat, Dr. Kurdi, menargetkan program tersebut mulai berjalan pada minggu kedua Juni 2026, tepat setelah momentum libur Lebaran.
“Fokus utama program ini adalah memastikan layanan pengangkutan sampah yang terjadwal dan menjangkau seluruh kawasan permukiman, termasuk lorong-lorong kecil yang selama ini sulit terlayani,” ujar Dr. Kurdi.
Menurutnya, kehadiran sistem baru ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan nyaman bagi masyarakat, khususnya di kawasan padat penduduk.
Tak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, program tersebut juga dirancang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi desa. Dengan pola pengelolaan profesional dan sistematis, Desa Suak Indra Puri diperkirakan dapat memperoleh tambahan pendapatan sekitar Rp5,5 juta per bulan pada tahap awal pelaksanaan.
Nilai tersebut diproyeksikan terus meningkat seiring bertambahnya jumlah pelanggan layanan pengangkutan sampah di masa mendatang.
Program di Suak Indra Puri sendiri merupakan bagian dari visi besar Pemerintah Kabupaten Aceh Barat dalam mengoptimalkan sektor persampahan sebagai sumber ekonomi baru daerah.
Berdasarkan hasil kajian sebelumnya, pengelolaan sampah berbasis kolaborasi desa dan BUMD berpotensi memberikan kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) hingga mencapai Rp5 miliar apabila diterapkan secara luas.
“Keberhasilan program ini sangat bergantung pada komitmen bersama, terutama perangkat desa dalam mengelola ekosistem kemitraan ini demi kepentingan masyarakat,” kata Dr. Kurdi.
Ia berharap Suak Indra Puri dapat menjadi model percontohan bagi desa-desa lain di Aceh Barat dalam membangun sistem pengelolaan sampah modern berbasis pemberdayaan masyarakat.
“Kami mengimbau desa-desa lain untuk segera bergabung dalam program ini. Sampah bukan lagi sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga peluang ekonomi yang dapat meningkatkan pendapatan desa sekaligus menjamin layanan kebersihan hingga ke depan pintu rumah warga,” pungkasnya optimistis.













