Lewat Podcast Kito, Baitul Mal Aceh Selatan Dorong Zakat Lebih Transparan di Era Digital

Aceh Selatan, Independen News – Program “Podcast Kito (Sahabat Zakat)” kembali menghadirkan diskusi inspiratif dan edukatif bagi masyarakat Aceh Selatan. Pada Episode 12 kali ini, podcast yang digagas oleh Baitul Mal Kabupaten Aceh Selatan mengangkat tema “Zakat Era Digital: Lebih Dekat, Lebih Terbuka” dengan menghadirkan narasumber Rio Official Syahrani, S.I.Kom putra Labuhanhaji yang saat ini mengabdi sebagai Staf pada Badan Perwakilan Pemerintah Aceh (BPPA) di Jakarta dan dipandu oleh host Saidi Hasan, S.Hi seorang Jurnalis dan Pengurus MPD Pemuda ICMI Aceh Selatan.

Episode ini tayang pada Selasa, 26 Mei 2026 pukul 20.00 WIB melalui Channel YouTube Podcast Kito Sahabat Zakat Baitul Mal Aceh Selatan, dan menjadi ruang diskusi penting mengenai bagaimana teknologi digital kini mengubah cara masyarakat memahami, menyalurkan, hingga mengawasi pengelolaan zakat.

Dalam pembukaannya, Host Saidi Hasan menyampaikan bahwa perkembangan teknologi saat ini harus dimanfaatkan sebagai sarana untuk mendekatkan pelayanan zakat kepada masyarakat. Menurutnya, lembaga zakat tidak boleh tertinggal dalam mengikuti perkembangan zaman, terutama dalam membangun komunikasi yang terbuka dan transparan kepada publik.

“Era digital memberikan peluang besar bagi lembaga zakat untuk hadir lebih dekat dengan masyarakat. Hari ini masyarakat ingin pelayanan yang cepat, informasi yang terbuka, dan bukti nyata bahwa zakat yang mereka titipkan benar-benar sampai kepada yang membutuhkan,” ujar Saidi Hasan.

Ia juga menambahkan bahwa media sosial dan platform digital bukan hanya alat publikasi, tetapi juga menjadi sarana edukasi dan membangun kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pengelola zakat.

“Ketika masyarakat melihat proses penyaluran zakat secara terbuka dan humanis, maka kepercayaan itu akan tumbuh dengan sendirinya. Karena sesungguhnya zakat bukan hanya soal angka, tetapi tentang kepedulian dan kebermanfaatan,” tambahnya.

Sementara itu, narasumber Rio Official Syahrani yang juga mantan Ketua Ikatan Mahasiswa Aceh Selatan (IMAS) Lhokseumawe menegaskan bahwa zakat di era modern telah mengalami transformasi besar. Jika dahulu masyarakat harus datang langsung ke masjid atau lembaga zakat untuk menunaikan kewajibannya, kini semuanya dapat dilakukan dengan lebih mudah hanya melalui smartphone.

“Sekarang zakat itu sudah berada di ujung jempol jari. Masyarakat bisa berzakat kapan saja dan di mana saja. Era digital membuat zakat menjadi lebih dekat dengan masyarakat,” ungkap Rio.

Kemudahan akses ini dinilai sangat penting, terutama dalam menjangkau generasi muda seperti Gen Z dan milenial yang tumbuh bersama perkembangan teknologi dan media sosial. Digitalisasi menjadikan zakat tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang kaku, tetapi mulai menjadi bagian dari gaya hidup modern yang peduli dan berbagi.

Tidak hanya soal kemudahan, diskusi tersebut juga menyoroti pentingnya transparansi dan kepercayaan publik terhadap lembaga pengelola zakat. Menurut Rio, masyarakat saat ini semakin kritis terhadap pengelolaan dana publik, sehingga lembaga zakat dituntut untuk lebih terbuka dalam menyampaikan informasi.

Ia menekankan bahwa publikasi lembaga zakat tidak cukup hanya menampilkan angka-angka nominal dana yang terkumpul, tetapi harus mampu menghadirkan cerita nyata di balik penyaluran zakat tersebut.

“Masyarakat tidak hanya ingin melihat angka miliaran rupiah, tetapi mereka ingin tahu siapa yang dibantu, bagaimana manfaatnya, dan bagaimana zakat itu benar-benar mengubah kehidupan mustahik,” jelasnya.

Konsep storytelling atau penyampaian cerita dinilai menjadi strategi komunikasi yang lebih efektif dalam membangun kedekatan emosional dengan masyarakat. Dokumentasi berupa foto, video, maupun testimoni penerima manfaat diyakini mampu memperkuat kepercayaan publik terhadap lembaga zakat.

Selain itu, Rio juga menyoroti pentingnya komunikasi yang humanis di media sosial. Menurutnya, admin media sosial lembaga harus mampu memberikan pelayanan informasi yang ramah, terbuka, dan responsif kepada masyarakat.

Dalam podcast tersebut turut dibahas peran penting jurnalis sebagai penghubung antara lembaga dan masyarakat. Wartawan disebut memiliki fungsi strategis sebagai “mata dan telinga masyarakat” dalam menyampaikan informasi yang objektif dan membangun transparansi publik.

Menanggapi hal tersebut, Saidi Hasan menegaskan bahwa keterbukaan informasi harus menjadi budaya dalam pengelolaan zakat modern. Ia berharap lembaga zakat terus berinovasi dengan memanfaatkan teknologi seperti dashboard transparansi digital, pembayaran QRIS, hingga konten edukasi yang menarik agar masyarakat semakin mudah memahami program-program zakat.

“Kepercayaan masyarakat adalah modal terbesar lembaga zakat. Ketika amanah dijaga dengan baik, transparansi diperkuat, dan komunikasi dilakukan secara konsisten, maka zakat akan menjadi kekuatan besar untuk membantu masyarakat dan membangun kesejahteraan bersama,” tutup Saidi Hasan.

Diskusi dalam Episode 12 “Podcast Kito (Sahabat Zakat)” ini menegaskan bahwa zakat di era digital bukan sekadar tentang teknologi, melainkan tentang menjaga amanah, memperkuat transparansi, dan membangun kepercayaan masyarakat melalui komunikasi yang jujur, konsisten, dan menyentuh sisi kemanusiaan.

Melalui podcast ini, Baitul Mal Kabupaten Aceh Selatan berharap masyarakat semakin memahami bahwa zakat adalah instrumen sosial yang memiliki kekuatan besar untuk membantu sesama, sekaligus menjadi jembatan kebaikan dari masyarakat untuk masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *