DP3AKB Aceh Barat Perkuat Penanganan Kasus Perempuan dan Anak Lewat Pelatihan Terpadu

Meulaboh, Independen News – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Aceh Barat kembali menggelar pelatihan peningkatan kapasitas bagi para pemangku kepentingan dalam penanganan kasus perempuan dan anak. Kegiatan yang berlangsung dalam dua tahap tersebut bertujuan memperkuat kualitas layanan perlindungan yang lebih cepat, terintegrasi, dan berpihak kepada korban.

Tahap pertama pelatihan telah dilaksanakan pada 3–4 Juni 2026 dengan fokus pada manajemen kasus dan pelaporan kasus berbasis Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI) Versi 3. Sementara tahap kedua dilaksanakan pada Jumat (12/6/2026).

Kepala DP3AKB Aceh Barat, Muliyani, S.KM, mengatakan pelatihan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas petugas dan mitra kerja dalam menangani kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak secara profesional dan terstandar.

Materi pelatihan disampaikan oleh dua narasumber, yakni Bambang Febriandi Wibowo dan Amrina Habibi, yang membahas penguatan manajemen kasus, tata cara pelaporan, serta koordinasi lintas sektor dalam penanganan korban.

Peserta pelatihan berasal dari berbagai unsur, di antaranya UPTD PPA, Unit PPA Polres Aceh Barat, Dinas Sosial, sektor kesehatan, serta sejumlah mitra dan instansi terkait lainnya yang selama ini terlibat dalam layanan perlindungan perempuan dan anak.

Menurut Muliyani, sinergi antarlembaga menjadi kunci penting dalam memberikan layanan yang komprehensif kepada korban. Karena itu, melalui pelatihan ini diharapkan seluruh pihak memiliki pemahaman yang sama terkait mekanisme penanganan dan pelaporan kasus.

“Harapannya, layanan perlindungan perempuan dan anak di Aceh Barat semakin cepat, terpadu, dan mampu memberikan pendampingan yang optimal kepada korban,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, DP3AKB Aceh Barat terus berkomitmen memperkuat sistem perlindungan perempuan dan anak sekaligus mendukung upaya pencegahan dan penanganan kekerasan secara berkelanjutan di daerah tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *