Aceh Selatan, Independen News – Pimpinan Dayah Mudi Inshafiah, Tgk. Syahrizal Elsy yang akrab disapa Ayah Sibadeh atau Ayah Seubadeh, menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap prosesi pensyahadatan mualaf serta Program Bantuan Uang Pembinaan Mualaf selama satu tahun yang dilaksanakan oleh Baitul Mal Kabupaten Aceh Selatan.
Menurut Ayah Sibadeh, momentum pensyahadatan yang berlangsung khidmat di Kantor Baitul Mal baru-baru ini bukan sekadar seremoni keagamaan, tetapi peristiwa besar yang mencerminkan hidupnya syiar Islam di Aceh Selatan.
“Ketika seseorang mengucapkan dua kalimat syahadat dengan kesadaran hati, itu adalah peristiwa yang menggetarkan langit. Kita patut bersyukur karena Allah masih menghadirkan hidayah di tengah masyarakat kita,” ujarnya.
Ia menilai langkah Baitul Mal yang tidak hanya memfasilitasi prosesi syahadat, tetapi juga menyiapkan program dan anggaran bagi pembinaan terstruktur selama satu tahun, merupakan bentuk tanggung jawab moral dan spiritual yang sangat mulia.
“Syahadat adalah pintu masuk. Tetapi setelah itu, saudara kita yang baru memeluk Islam membutuhkan bimbingan, pendampingan, dan penguatan. Islam tidak hanya menerima, tetapi juga membimbing dan menjaga,” tegasnya.
Ayah Sibadeh juga mengingatkan bahwa keberanian seorang mualaf dalam memilih Islam seringkali lahir dari proses pencarian panjang dan pergulatan batin yang tidak mudah. Karena itu, menurutnya, umat Islam memiliki kewajiban untuk menyambut mereka dengan kelembutan, bukan dengan tuntutan yang memberatkan.
“Jangan biarkan mereka berjalan sendiri. Rangkul dengan kasih sayang, ajarkan dengan kesabaran. Setiap huruf Al-Qur’an yang mereka pelajari adalah cahaya. Setiap langkah mereka menuju masjid adalah bukti keikhlasan,” katanya penuh haru.
Lebih jauh, ia mengajak masyarakat menjadikan momentum ini sebagai bahan muhasabah diri, khususnya bagi umat Islam yang telah memeluk agama ini sejak lahir.
“Saudara kita menempuh pencarian panjang untuk menemukan Islam. Sementara kita lahir dalam keadaan Muslim, tetapi sering lalai dalam menjaga shalat, jarang menghadiri majelis ilmu, dan kurang bersyukur atas nikmat iman. Ini harus menjadi cambuk bagi kita semua,” ujarnya.
Menurutnya, istiqamah dalam menjalankan ajaran Islam justru merupakan ujian terbesar bagi setiap Muslim. Oleh karena itu, kehadiran mualaf dengan semangat belajar dan keinginan kuat untuk memahami Islam harus menjadi inspirasi bersama.
“Jangan sampai mualaf lebih bersemangat daripada kita. Jadilah teladan dalam ibadah, akhlak, dan kepedulian sosial. Karena menjaga satu hati agar tetap dalam iman adalah amal besar di sisi Allah SWT,” tambahnya.
Ayah Sibadeh berharap sinergi antara ulama, pemerintah daerah, dan Baitul Mal terus diperkuat demi menghadirkan sistem pembinaan mualaf yang berkelanjutan dan bermartabat di Aceh Selatan.
“Semoga setiap hidayah yang tumbuh di negeri ini tidak hanya disambut dengan ucapan selamat, tetapi dirawat dengan ilmu, doa, dan persaudaraan. Karena ketika satu hati menemukan Allah SWT, seluruh umat memiliki tanggung jawab untuk menjaganya tetap menyala,” pungkasnya.











