Krisis Darah Mengintai, BFLF Aceh Selatan Minta Semua Pihak Bergerak

Aceh Selatan, Independen News – Di balik hiruk-pikuk pelayanan rumah sakit, terdapat kisah-kisah sunyi yang jarang terlihat, namun begitu menggugah hati.

Tangisan keluarga pasien yang menunggu ketersediaan darah kerap kali menjadi potret nyata betapa kebutuhan darah adalah persoalan mendesak yang tidak bisa ditunda.

Di lorong rumah sakit, ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD), hingga di balik pintu ruang ICU, perjuangan itu berlangsung dalam diam. Seorang ibu tampak menahan kecemasan, seorang ayah menggenggam doa dengan penuh harap, sementara seorang anak hanya bisa berharap akan datangnya keajaiban.

Waktu terus berjalan, namun kebutuhan darah tak pernah menunggu.

“Darah bukan sekadar cairan. Ia adalah kehidupan. Ia adalah kesempatan kedua. Ia menjadi batas antara harapan dan kehilangan,” ungkap Gusmawi Mustafa, Ketua Blood For Life Foundation (BFLF) Aceh Selatan.

Menurutnya, masih banyak masyarakat yang belum menyadari bahwa persoalan kekurangan darah adalah tanggung jawab bersama.

Dalam kondisi genting, tidak sedikit orang memilih untuk diam, merasa hal tersebut bukan menjadi urusannya, atau beranggapan bahwa akan selalu ada pihak lain yang bergerak.

“Cara pandang ini harus diubah. Kepedulian terhadap kebutuhan darah bukan pilihan, tetapi keharusan moral. Ini bukan sekadar aksi kemanusiaan sesaat, melainkan tanggung jawab bersama sebagai sesama manusia,” tegas Gusmawi.

Ia menambahkan, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa keluarga pasien sering kali harus berjuang sendiri, mencari donor dari satu tempat ke tempat lain, bahkan memohon bantuan dengan penuh harap dan air mata.

Situasi ini, menurutnya, tidak boleh terus dibiarkan.

“Bayangkan jika yang terbaring itu adalah orang yang kita cintai. Apakah kita masih bisa diam?” ujarnya.

Gusmawi juga mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk pihak-pihak yang memiliki kewenangan dan tanggung jawab, untuk tidak berpangku tangan.

Ia menegaskan bahwa sudah saatnya semua pihak bergerak nyata, menghadirkan solusi, dan tidak sekadar menjadi penonton dalam situasi darurat kemanusiaan.

“Setiap tetes darah yang didonorkan adalah bukti kepedulian. Itu adalah pesan bahwa kita hadir, bahwa kita tidak membiarkan mereka berjuang sendirian,” lanjutnya.

Di tengah kehidupan yang semakin sibuk dan cenderung individualistis, menjaga kepedulian terhadap sesama menjadi hal yang sangat penting.

Gusmawi mengingatkan agar masyarakat tidak menunggu sampai diminta, tidak menunggu sampai persoalan ini menjadi viral, atau bahkan menunggu hingga menimpa orang terdekat.

“Mari bergerak. Mari menjadi bagian dari solusi. Karena di balik setiap kantong darah, ada kehidupan yang diselamatkan. Dan di balik setiap kepedulian, ada harapan yang kembali menyala,” pungkasnya.

Seruan ini menjadi pengingat bahwa kepedulian bukan hanya tentang empati, tetapi tentang tindakan nyata.

Terlebih bagi para pihak yang memiliki tanggung jawab terhadap pemenuhan kebutuhan darah bagi pasien, sudah saatnya untuk tidak lagi diam, melainkan hadir dengan aksi dan solusi demi kemanusiaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *