Banda Aceh, Independen News – Gagasan menghadirkan ruang pengabdian sosial di tengah rutinitas para pegawai mulai didorong melalui sebuah gerakan yang diberi nama Program Layanan Pegawai Nyambi Sosial (PNS).
Program ini membawa pesan sederhana: “Satu Jam Sebulan, Berjuta Manfaat untuk Sesama.”
Gagasan tersebut lahir dari pemikiran bahwa pengabdian seorang pegawai tidak hanya berhenti pada tugas kedinasan. Di luar pekerjaan rutin, masih terdapat ruang yang luas untuk menghadirkan kepedulian dan membantu masyarakat yang membutuhkan.
Ketua Umum Blood For Life Foundation (BFLF) Indonesia yang juga Sekretaris Dinas Sosial Aceh, Michael Oktaviano, S.STP, mengatakan, semangat pelayanan kepada masyarakat sesungguhnya dapat diperluas melalui keterlibatan para pegawai dalam berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan.
Menurutnya, seorang pegawai tidak harus memiliki banyak waktu untuk dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kadang kita berpikir bahwa untuk membantu orang lain harus memiliki banyak waktu. Padahal, kalau setiap orang menyisihkan satu jam saja dalam sebulan, lalu dilakukan secara bersama-sama dan terorganisir, manfaatnya bisa sangat besar,” ujar Michael.
Ia menjelaskan, konsep Pegawai Nyambi Sosial bukan dimaksudkan sebagai pekerjaan tambahan yang mengganggu tugas utama seorang pegawai. Sebaliknya, gerakan tersebut merupakan ajakan untuk menyisihkan sebagian kecil waktu secara terukur dan bergiliran untuk kegiatan sosial.
“Tidak perlu meninggalkan pekerjaan dan tidak perlu mengabaikan tanggung jawab utama. Cukup satu jam dalam sebulan, dilakukan secara bergiliran sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing,” katanya.
Michael sebagai inisiator program menilai, apabila gerakan tersebut dapat melibatkan ribuan pegawai, akumulasi waktu yang terkumpul akan menjadi kekuatan sosial yang besar.
Sebagai gambaran, 1.000 pegawai yang masing-masing menyisihkan satu jam dalam sebulan akan menghasilkan 1.000 jam pengabdian. Jika jumlahnya mencapai 10.000 pegawai, maka terkumpul 10.000 jam. Bahkan jika 100.000 pegawai ikut mengambil bagian, terdapat 100.000 jam yang dapat diarahkan untuk berbagai kegiatan kemanusiaan dalam satu bulan.
“Bayangkan kalau waktu tersebut digunakan untuk mendampingi pasien, mengunjungi lansia, membantu penyandang disabilitas, mendampingi masyarakat miskin, donor darah, membantu korban bencana, mengantar bantuan, atau memberikan pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan. Ini bukan lagi sekadar satu jam milik satu orang, tetapi menjadi kumpulan waktu kepedulian yang sangat besar,” ujar Michael.
Ia menambahkan, gerakan tersebut pada dasarnya tidak hanya diperuntukkan bagi aparatur sipil negara. Semangat Pegawai Nyambi Sosial dapat dikembangkan dengan melibatkan tenaga honorer, pekerja, profesional, komunitas, dunia usaha, mahasiswa, maupun masyarakat umum.
“Yang kita butuhkan sebenarnya bukan siapa yang paling banyak memberi. Yang kita butuhkan adalah sebanyak mungkin orang yang mau memberikan sedikit dari apa yang mereka punya,” katanya.
Sementara itu, Gusmawi Mustafa, yang sehari-hari menjabat sebagai Kepala Sekretariat Baitul Mal Aceh Selatan sekaligus Ketua BFLF Aceh Selatan, mengatakan, gagasan Pegawai Nyambi Sosial berangkat dari pengalaman melihat langsung berbagai kebutuhan masyarakat di lapangan.
Menurut Gusmawi, persoalan sosial yang dihadapi masyarakat sering kali tidak selalu membutuhkan bantuan dalam bentuk yang besar. Dalam banyak keadaan, kehadiran seseorang justru menjadi bantuan yang sangat berarti.
“Seorang pasien mungkin hanya membutuhkan seseorang untuk mengantarkannya berobat. Seorang lansia mungkin hanya membutuhkan seseorang untuk datang dan mendengarkan. Penyandang disabilitas mungkin membutuhkan pendampingan. Keluarga yang sedang kesulitan mungkin membutuhkan bantuan sederhana berupa makanan atau kebutuhan sehari-hari,” ujar Gusmawi.
Ia mengatakan, hal-hal kecil tersebut sering kali terlihat sederhana bagi orang yang memberikan, tetapi dapat memiliki arti yang sangat besar bagi penerima manfaat.
“Satu perjalanan mengantar pasien mungkin bagi kita hanya beberapa kilometer. Tetapi bagi keluarga pasien, perjalanan itu bisa menjadi jalan menuju harapan. Satu kantong darah mungkin hanya membutuhkan sebagian kecil waktu kita, tetapi bagi pasien yang membutuhkan transfusi, darah itu bisa menjadi kesempatan untuk terus hidup,” katanya.
Gusmawi juga mencontohkan bantuan sederhana seperti beras, pakaian layak pakai, kursi roda, makanan, maupun pendampingan. Menurutnya, nilai sebuah bantuan tidak hanya terletak pada besar kecilnya benda yang diberikan, tetapi pada manfaat yang dirasakan oleh penerima.
Karena itu, ia memandang PNS sebagai sebuah gerakan untuk mengumpulkan kepedulian, bukan sekadar mengumpulkan bantuan.
“PNS bukan tentang siapa yang paling banyak memberi. Ada orang yang memiliki tenaga, ada yang memiliki kendaraan, keahlian, jaringan, waktu, rezeki, atau kemampuan mendampingi. Bahkan ada yang mungkin hanya mampu hadir dan memberikan semangat. Semuanya berarti,” ujar Gusmawi.
Ia berharap gagasan tersebut dapat menjadi gerakan bersama yang dilakukan secara terorganisir, terukur, dan berkelanjutan.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Misalnya, satu bulan para relawan pegawai melakukan pendampingan pasien, bulan berikutnya donor darah, kemudian kunjungan kepada fakir uzur dan lansia, pendampingan penyandang disabilitas, distribusi bantuan, pelayanan kepada mustahik, hingga membantu masyarakat yang terdampak bencana.
“Tidak harus semuanya dilakukan oleh orang yang sama. Bisa bergiliran. Yang penting ada kemauan untuk menyisihkan satu jam dan menghadirkan manfaat bagi orang lain,” katanya.
Gusmawi menegaskan bahwa semangat utama gerakan ini adalah membangun budaya kepedulian di tengah kesibukan masyarakat modern.
Menurutnya, semakin banyak orang yang menyisihkan sedikit waktu, tenaga, pikiran, kendaraan, keahlian, rezeki, bahkan setetes darah, maka semakin luas pula masyarakat yang dapat dijangkau.
“Kadang masyarakat tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar. Mereka hanya membutuhkan seseorang yang datang, seseorang yang mengantar, seseorang yang mendengarkan, seseorang yang membantu, atau seseorang yang mengatakan: Kami ada di sini. Anda tidak sendiri,” tutur Gusmawi.
Ia berharap konsep Pegawai Nyambi Sosial dapat dikembangkan menjadi sebuah gerakan kolaboratif yang mempertemukan para pegawai dengan berbagai kebutuhan sosial di tengah masyarakat.
“Kalau satu orang hanya mampu membantu beberapa orang, maka ribuan orang yang bergerak bersama dapat menghadirkan manfaat bagi ribuan kehidupan. Kita mungkin tidak mampu membantu semua orang, tetapi bersama-sama kita bisa membuat lebih banyak orang merasa bahwa mereka tidak sendirian,” ujarnya.
Program Layanan Pegawai Nyambi Sosial kemudian membawa empat pesan utama: bekerja untuk negara, bergerak untuk kemanusiaan, menyisihkan satu jam, dan menghadirkan berjuta manfaat.
Gagasan tersebut pada akhirnya tidak sekadar berbicara tentang waktu.
Lebih dari itu, PNS mengajak setiap orang untuk mengubah sebagian kecil waktunya menjadi sesuatu yang berarti bagi kehidupan orang lain.
Satu jam mungkin terasa kecil bagi kita. Namun jika ribuan orang menyumbangkan satu jamnya, maka akan lahir ribuan jam kepedulian, dan dari sana, semakin banyak kehidupan yang dapat disentuh oleh kebaikan.






