Buah Rumbia Aceh Barat Tinggal Nama, Pedagang Rujak Kehilangan Cita Rasa Khas

Meulaboh, Independen News – Buah rumbia yang dahulu menjadi salah satu hasil alam unggulan di Kabupaten Aceh Barat, kini hanya tinggal kenangan. Buah yang pernah dipasok dalam jumlah besar hingga ke pasar Banda Aceh itu disebut sudah sekitar 15 tahun tidak lagi berbuah.

Kondisi tersebut turut dirasakan para pedagang rujak di Meulaboh. Mereka mengaku kehilangan cita rasa khas rujak yang dahulu sangat digemari masyarakat karena campuran buah rumbia muda.

“Selama buah rumbia tidak ada berbuah, kami terpaksa mencampur rujak dengan buah sawo matang dan buah lainnya. Namun rasanya tetap tidak seperti dulu,” ujar Evi, salah seorang penjual rujak di Meulaboh, Sabtu dini hari (24/5/2026).

Menurut Evi, keberadaan buah rumbia dahulu menjadi bahan utama yang membuat rujak khas Aceh Barat memiliki rasa berbeda dibanding daerah lain. Kini para pedagang hanya bisa mengenang masa ketika buah rumbia mudah ditemukan di pasar tradisional.

Sementara itu, Adi, warga Dusun Monkulu, Gampong Ladang, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat, mengatakan pohon rumbia yang sudah tinggi biasanya disebut masyarakat sebagai batang sagu.

“Batang sagu bisa diolah menjadi bahan makanan tambahan, juga untuk pakan ayam dan itik. Kami beli sekitar Rp70 ribu per batang,” kata Adi.

Ia menjelaskan, batang sagu tersebut kemudian dipotong-potong sepanjang satu meter sebelum dijual kembali kepada peternak ayam dan itik di wilayah Kecamatan Samatiga.

“Kami hanya cari keuntungan sedikit, Pak,” ucap Adi dengan mata berkaca-kaca penuh harap.

Masyarakat berharap pemerintah daerah maupun pihak terkait dapat mencari solusi agar tanaman rumbia kembali dibudidayakan di Aceh Barat. Selain bernilai ekonomi, buah rumbia juga dianggap bagian dari kekayaan kuliner tradisional yang mulai hilang dari daerah tersebut.

(Muhibbul Jamil)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *