MEULABOH, Independen News – Pernyataan Ketua Lembaga Aspirasi Nasional Atjeh (LANA), Teuku Laksamana, yang meminta Bupati Aceh Barat mundur dari jabatannya menuai reaksi keras dari masyarakat. Pernyataan itu disampaikan Teuku Laksamana melalui salah satu media online pada Jumat (31/1/2026).
Dalam keterangannya, ia menilai Bupati Aceh Barat tidak mampu melindungi keselamatan, kesehatan, serta lingkungan hidup masyarakat, terutama setelah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang baru-baru ini terjadi di wilayah setempat.
Namun setelah berita tersebut beredar dan dibagikan ke grup WhatsApp Info Aceh Barat, suasana grup langsung memanas. Sejumlah anggota grup menanggapi keras pernyataan Ketua LANA tersebut dengan berbagai komentar yang sebagian besar bernada kritik.
Beberapa anggota menilai pernyataan Teuku Laksamana tidak berdasar dan cenderung mencari perhatian publik.
“Ribut sekali, semua disalahkan. Kalau minta mundur, mundur dari apa? Kalau masa jabatan habis ya selesai sendiri. Kalau mau mundur di tengah jalan, harus ada kasus terbukti, jangan asal bicara,” tulis salah satu anggota grup.
Ada pula komentar yang menyindir motif di balik pernyataan itu.
“Cari viral mungkin laki-laki ini,” tulis seorang anggota lainnya.
Sebagian anggota juga menilai kebakaran lahan gambut di Aceh Barat bukan sepenuhnya tanggung jawab kepala daerah.
“Kalau masalah data tidak akurat, bukan bupati yang harus mundur. Kasih data akurat dulu,” ujar anggota lain menimpali.

Perdebatan di grup semakin memanas hingga mendekati tengah malam. Suasana makin heboh ketika salah satu anggota mengirimkan tangkapan layar berita dari media online lain yang menampilkan foto empat debt collector yang kabur saat akan diperiksa polisi di Aceh Barat. Dalam foto tersebut, tampak seseorang yang disebut-sebut mirip dengan Teuku Laksamana.
Unggahan itu langsung memicu kehebohan baru di grup. Banyak anggota mempertanyakan kebenaran foto tersebut dan kaitannya dengan Ketua LANA. Hingga berita ini diturunkan, Teuku Laksamana belum memberikan klarifikasi di dalam grup WhatsApp maupun kepada media.
Kasus ini pun menjadi topik hangat di kalangan warganet Aceh Barat. Sebagian menilai kritik LANA merupakan bentuk kontrol sosial terhadap pemerintah, namun sebagian lain menilai pernyataan tersebut justru memperkeruh suasana di tengah upaya penanganan bencana kebakaran lahan.








